Menjadi mahasiswa matematika itu nggak mudah. Kenapa dulu aku nggak ambil jurusan bahasa aja? Atau aku ikutan sekolah penulis di Jogja? Lumayan juga dua bulan sekolah langsung bisa kontrak kerja sama penerbit. Bisa langsung terbitin buku. Ah, andai waktu bisa diulang. Atau aku berhenti kuliah dan memulai sesuatu yang baru? Menulis novel lagi misalnya.
Seharunya nggak gini kejadiannya. Seharusnya aku bisa melaluinya, seperti yang udah aku bayangkan. Kuliah di perguruan tinggi paling keren, masuk jurusan tempat orang-orang pinter. Bergaul dengan para manusia super dengan IQ mereka yang tinggi. Berbicara dengan bahasa tingkat dewa. Wahhh, aku berada di antara orang-orang hebat. Tapi.... Kenapa malah aku nggak bersinar?
Mereka semua seperti nggak peduli sama yang namanya hidup. Isi otak mereka hanya belajar, belajar, dan belajar. Setiap kali jam kosong mereka hanya membicarakan hal-hal yang membosankan. Seperti angka-angka yang tidak mengandung rupiah, atau garis-garis hayal yang bahkan cuma bisa dilihat pake mata batin.
Semangatku langsung runtuh. Apalagi setelah ngeliat sebuah angka mengejutkan dari balik kertas jawaban UTS aku. Oh man, aku hanya bisa bilang "Apa aku beneran salah jurusan?". Aku suka matematika tapi aku nggak tahu bagaimana cara memahaminya. Ibaratnya nih kayak, "I Love You but I don't know how to love you!".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar