Kamis, 25 Desember 2014

Sukses itu...

Entah kenapa kata-kata itu seperti momok sekaligus motivasi buat hidup. Apakah setiap orang harus sukses? Apakah sukses itu wajib? Apakah sukses itu sebuah impian? Di pikiranku, kata-kata sukses seperti cambuk raksasa yang siap menghantap siapa saja. Dimana saja. Kapan saja. Apalagi untuk mahasiswa. Kata-kata sukses itu seperti bayangan hitam yang setiap didatengin selalu kabur. Dan nggak tahu kapan kita bisa menangkapnya.


Rabu, 24 Desember 2014

Ini mimpi ataukah...?

Mimpi adalah bunga tidur. Tidak apa asalkan itu menyenangkan. Aku selalu memimpikan hal yang berbeda dari kenyataan. Arti setiap mimpiku selalu bisa ditebak. Rumusnya sederhana saja. Jika aku bermimpi baik maka aku akan menemui hal yang buruk. Jika itu mimpi yang buruk, aku akan mendapat hal yang lebih buruk. Hahaha... Tidak! Tidak!

Mimpi itu seperti angin. Berhembus lalu pergi. Datang lagi, berhembus lalu pergi. Hanya itu. Nothing special. Sama sekali tidak spesial. Hanya saja aku pernah bermimpi sesuatu yang lebih dari spesial. Kenapa spesial? Karena mimpi itu 50% adalah kenyataan. AMIN...

Walaupun dengan IP minim, setidaknya aku masih punya rencana cadangan. Yasudahlah... Abaikan IP. Yang penting sekarang aku bisa kuliah lagi. Bissmillahirahmanirahim....


Badai pasti berlalu

Minggu tenang seharusnya menjadi minggu liburan yang menyenangkan. Teman-temanku aja pada pulang kampung. Aku??? Kenapa harus berkutat dengan pikiran-pikiran menyebalkan ini? Ah, pada akhirnya aku lebih memilih menghabiskan paket internet untuk download semua film yang ada di google. Bodo' amat sama ujian.

Dan sekarang H-2 ujian. Mama Papa tatsukete kudasai... Seandainya aku kemarin belajar sedikit lebih banyak. Setidaknya satu bab atau dua bab. Kenapa aku meremhkan semuanya. Pikiranku rasanya kacau mikirin ujian. Bukan ujiannya. Tapi nilainya. Mungkin aku bakalan nggak lulus di tiga mata kuliah. Ya Allah banyak banget.......

Jumat, 17 Oktober 2014

I Love You but I don't know how to love you!


Menjadi mahasiswa matematika itu nggak mudah. Kenapa dulu aku nggak ambil jurusan bahasa aja? Atau aku ikutan sekolah penulis di Jogja? Lumayan juga dua bulan sekolah langsung bisa kontrak kerja sama penerbit. Bisa langsung terbitin buku. Ah, andai waktu bisa diulang. Atau aku berhenti kuliah dan memulai sesuatu yang baru? Menulis novel lagi misalnya.